Rabu, 08 November 2017

Komunikasi Produktif 7

Bismillah..

Siang ini, si sulung sedang bermain bersama satu saudara, dan adiknya di ruang tengah. Lalu saya tinggal mereka untuk melaksanakan sholat dzhur, belum saya mulai sholat, terdengar beberapakali larangan (dengan sedikit nada tinggi) dari neneknya yang baru selesai sholat, lalu beberapa detik kemudian diikuti suara tangisan si sulung. Saya tidak tau pasti apa yang sedang terjadi, si sulung menangis semakin kenceng, sementara neneknya masih terlihat mengomel, adik dan sodaranya hanya melihat, sambil bermain. Langsung saya peluk si sulung yang sedang menangis, dan membawanya ke kamar (menenangknanya) sementara adiknya pun merengek, dan mengikuti ke kamar.
Si sulung masih cegukan, dan menangis, dan masih saya peluk. Setelah agak tenang, saya meminta ijin untuk menunaikan sholat terlebih dahulu.
Setelah sholat, saya melihat si sulung sudah ceria lagi, dan bermain bersama adiknya di dalam kamar, lalu saya dekatin dan saya tanya dengan lembut.
Saya : "kenapa Aa td nangis?"
Muka si sulung langsung berubah kusut, dan cemberut, tidak menjawab pertanyaan saya.
Sebenarnya saya mendengar sekilas dari penjelasan neneknya yang sambil mengomel. Namun saya mencoba mendengar dari sudut pandang si sulung.
Karena beberapa kali saya tanya, namun si sulung enggan menjawab, baru saya langsung mengarahkan pada intinya.
Saya : "Aa kalau nengnya gangguin Aa lagi main, Aanya bilang ke neng, jangan gangguin. Gak boleh nengnya disembur (dengar dari penjelasan neneknya, bahwa adiknya disembur, gak pake air sih, hanya disembur biasa) itu tidak sopan. Aa juga kan gak mau kalau disembur. Kalau Aa lagi main, nengnya dikasih mainan yang lain, biar sama-sama bermain."
Dan si sulung hanya mengangguk.

Sorenya, saat mandi sore, seperti biasa si sulung dan adiknya mandi berbarengan sambil membawa mainan, saat saya sedang memandikan Adiknya, tangan saya tanpa senghaja menyenggol tangan si sulung yang sedang memainkan mobilannya di bak mandi, sehingga mobilannya (hotweels) masuk ke bak mandi, dan terjun ke dasar. Dan lumayan dalam untuk ukuran si sulung. Diapun marah-marah pada saya (menyalahkan), sayapun meminta maaf, namun sambil menangis dan sedikit berteriak dia menyuruh saya mengambilkan mainannya. Tidak langsung saya ambilkan, saya meminta dia untuk meminta tolong dan berkata yang baik (tidak teriak) ketika dia membutuhkan pertolongan.
Namun dia makin menjadi menangis, dan tetap menyuruh saya mengambilnya. Dan terus pula saya menjelaskan padanya, bagaimana sikap orang yang meminta tolong. Hingga adiknya sudah selesai di handuk, dia masih menangis, namun dengan intensitas melemah dan memeluk saya, sambil menunjuk ke bak mandi. Saya merasa mungkin egonya sudah menurun, namun masih ada gengsi untuk mengatakan minta tolong.
Saya mencoba memancingnya.
"Aa mau minta tolong ke umi ngambilin mobilannya?"
Dia hanya mengangguk.
"Hayu bilang, umi Aa minta tolong ambilin mobilan Aa"
Namun dia hanya menangis sambil memeluk saya.
Setelah beberapa kali, baru dia mau mengatakan minta tolong, walau dengan suara perlahan.

Saya ingin mengajarkan padanya, suatu hari nanti, ketika dia menjadi orang besar dan sukses, dan berada diposisi paling atas menurut manusia. Jika dia membutuhkan bantuan, tidak usah malu untuk meminta tolong. Walaupun pada orang yang sudah melakukan kesalahan padanya, serta mudah untuk memaafkan.

Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.


Karawang, 08 November 2017
Euis Nurhayati


#hari7
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar