Minggu, 12 November 2017

Komunikasi Produktif 10

Bismillah..

Luar biasanya ingatan anak-anak, mereka mampu merekam kejadian demi kejadian yang mereka alami, ada yang bisa dilupakan dengan seiring beranjaknya dewasa, ada juga yang akan terus melekat sampai dewasa. Dan tentu saja semua dengan ijin Allah.

Begitulah garis besar yang saya tangkap dari seminar innerchild Ahad kemarin.

Bagi saya itu merupakan titik balik.
Karena sejak saat itu saya sangat berhati-hati ketika berbicara, maupun bertindak terhadap anak-anak.
Entah itu anak sendiri, maupun anak-anak yang saya temui.
Saya ingin mereka mengingat saya dengan hal-hal yang baik, ketika mereka dewasa nanti.

Seperti siang ini, ditengah agenda yang padat, saya memacu motor matic, dengan 1 batita, dan 1 balita ke kota.
Bukan kali pertama buat saya. Namun hari itu si sulung nampak kelelahan, ditambah udara kota karawang yang cukup terik, sehingga membuatnya terlelap.
Padahal biasanya, dia kuat terjaga sampai tujuan, baru ketika pulang dia mengantuk, dan tertidur. Kalau yang kecil jengan ditanya, biasanya 5 menit naik motor sudah tidur. 😄

Bisa dibayangkan, gimana repotnya mengendarai sepeda motor, dengan dua anak didepan yang keduanya dalam keadaan tidur. Ditambah udara panas, jarak yang jauh (kira-kira 30-45 menit sampai tujuan dengan kecepatan biasa) ditambah lagi dalam keadaan terburu-buru. (karena ada 4 janji yang harus ditunaikan hari ini)

Dalam posisi mau pulang pun, biasanya saya akan sedikit ngomel pada si sulung, selain mengajaknya ngobrol yang ujung-ujungnya selalu ngomel juga.

Namun hari ini, saya semakin sadar. Tidak ada gunanya saya ngomel sama orang yang sedang kelewat ngantuk (tidur) apalagi anak-anak yang belum mengerti, kenapa mereka diomeli, bukannya ketika mengantuk maka harus tidur?
Jangankan anak-anak. Saya yang sudah punya anak saja kalau mengantuk ya cuma tidur yang bisa menyembuhkan.

Intinya, hari ini saya coba menahan omelan (salah sendiri berangkatnya mepet) saya berhenti dulu dipinggir jalan, untuk menepi. (kasihan juga melihat si sulung tidur, kalau yang kecil Alhamdulillah sudah aman, walaupun tidur, tp si sulung, lumayan bikin konsentrasi yang nyetir sedikit 'oleng')
Saya tanya si sulung (pertanyaan yang selalu saya lontarkan ke si sulung, ketika sepeda motor mulai sedikit goyang)
Saya : "Aa ngantuk ya?"
Aa : "iya" (biasanya, kalau belum ngantuk banget, dia selalu jawab "nggak mi, cuma ngantuk sedikit, udah bangun lagi")
Tapi kali ini, dia sepertinya sangat mengantuk.

Lalu saya pun berhenti sejenak, sambil terus mengajaknya bicara.
Saya : "Yaudah, kalau Aa ngantuk, umi berhentiin dulu motornya ya, biar Aa nya tidur dulu. Kalau tidurnya udah, baru jalan lagi"
Setelah beberapa menit berhenti, dan dia mulai sadar dia memasng tampang 'seger' (diseger-segerin)
Aa : "Aa udah tidurnya mi, ini udah kebuka matanya. Tidurnya *sedikit aja (*sebentar)"

Lalu baru beberapa meter jalan, kondisinya kembali. Dan sayapun kembali menepi, begitu seterusnya sampai beberapa kali. Dan sampai si sulung benar-benar seger dan kembali mengoceh. (karena kalau tidak tidur, biasanya dia mengoceh sepanjang jalan)

Alhamdulillah setelah dikomunikasikan bersama ternyata lebih mudah, lebih lega, lebih enak. Saya enak (gak ngomel-ngomel gak jelas) anakpun enak (gak denger omelan yang mungkin dia juga gak ngerti mengapa dia diomeli, atau apa salahnya sehingga diomeli)
Dan Alhamdulillah janji hari inipun tertunaikan.

Pemberhentian saat menunggu si sulung tidur.

Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.


Karawang, 11 November 2017
Euis Nurhayati


#hari10
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar