Bismillah..
Sore kemarin (sepulang dari aktifitas luar rumah) uwanya anak-anak (kakak suami) dan keluarganya sudah berada di rumah (kunjungan bulanan) dan Alhamdulillah rumah menjadi sedikit ramai dengan bertambahnya balita.
Si sulung juga sangat senang (karena kakak*nya seumuran) jd ada teman bermain. Namun seperti anak pada umumnya, jika banyak orang, maka akan ada yang lebih caper (cari perhatian) dan kali ini si sulung yang terlihat caper, dengan lebih sering menjahili adiknya. Sampai siang tadi, saat kita semua sedang mengobrol di teras depan, adiknya terjatuh karena ketarik si sulung yang sedang berlari, dan betisnya luka, sedikit sih lukanya, namun lumayan terlihat perih (melihat ekspresi si kecil)
Dan.. Reaksi orang-orang yang ada disekitar saat kejadian yang membuat saya malah lebih khawatir terhadap si sulung.
Karena saya yakin, si sulung tidak senghaja, dia tidak bermaksud, tapi dia belum bisa mengekspresikannya.
Sayapun menghampiri si sulung dengan menggendong si adik yang terlihat meringis (setelah dikasih obat)
Saya : "tuh A, lihat, nengnya luka" kata saya sambil memperlihatkan luka adiknya.
Aa : "neng knp mi?" jawab si sulung dengan polos.
Saya : "td kan waktu Aa lari, neng nya ketarik sama Aa, terus jatuh. Terus kakinya kena teras, luka deh"
Si sulung hanya berekspresi merasa bersalah tanpa berkata.
Saya : "Nah, lain kali, kalau lari hati-hati, tangannya dijaga, jangan tarik-tarik neng. Soalnya neng masih kecil, belum bisa kaya Aa, ikutan lari. Oke?"
Diapun mengangguk, dan tersenyum lalu melanjutkan bermain bersama saudaranya yang lain.
Sebetulnya menurut saya, cara berkomunikasi dengan anak-anak tu lebih mudah, dibanding berkomunikasi dengan orang yang lebih dewasa (tua).
Karena semua kita pasti pernah menjadi anak-anak, dan belum pernah menjadi tua.
Maka, saat berkomunikasi dengan anak, posisikan kita saat kita diusia mereka.
In sya Allah kita akan jauh lebih memahami..
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 12 November 2017
Euis Nurhayati
#hari11
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Minggu, 12 November 2017
Komunikasi Produktif 10
Bismillah..
Luar biasanya ingatan anak-anak, mereka mampu merekam kejadian demi kejadian yang mereka alami, ada yang bisa dilupakan dengan seiring beranjaknya dewasa, ada juga yang akan terus melekat sampai dewasa. Dan tentu saja semua dengan ijin Allah.
Begitulah garis besar yang saya tangkap dari seminar innerchild Ahad kemarin.
Bagi saya itu merupakan titik balik.
Karena sejak saat itu saya sangat berhati-hati ketika berbicara, maupun bertindak terhadap anak-anak.
Entah itu anak sendiri, maupun anak-anak yang saya temui.
Saya ingin mereka mengingat saya dengan hal-hal yang baik, ketika mereka dewasa nanti.
Seperti siang ini, ditengah agenda yang padat, saya memacu motor matic, dengan 1 batita, dan 1 balita ke kota.
Bukan kali pertama buat saya. Namun hari itu si sulung nampak kelelahan, ditambah udara kota karawang yang cukup terik, sehingga membuatnya terlelap.
Padahal biasanya, dia kuat terjaga sampai tujuan, baru ketika pulang dia mengantuk, dan tertidur. Kalau yang kecil jengan ditanya, biasanya 5 menit naik motor sudah tidur. 😄
Bisa dibayangkan, gimana repotnya mengendarai sepeda motor, dengan dua anak didepan yang keduanya dalam keadaan tidur. Ditambah udara panas, jarak yang jauh (kira-kira 30-45 menit sampai tujuan dengan kecepatan biasa) ditambah lagi dalam keadaan terburu-buru. (karena ada 4 janji yang harus ditunaikan hari ini)
Dalam posisi mau pulang pun, biasanya saya akan sedikit ngomel pada si sulung, selain mengajaknya ngobrol yang ujung-ujungnya selalu ngomel juga.
Namun hari ini, saya semakin sadar. Tidak ada gunanya saya ngomel sama orang yang sedang kelewat ngantuk (tidur) apalagi anak-anak yang belum mengerti, kenapa mereka diomeli, bukannya ketika mengantuk maka harus tidur?
Jangankan anak-anak. Saya yang sudah punya anak saja kalau mengantuk ya cuma tidur yang bisa menyembuhkan.
Intinya, hari ini saya coba menahan omelan (salah sendiri berangkatnya mepet) saya berhenti dulu dipinggir jalan, untuk menepi. (kasihan juga melihat si sulung tidur, kalau yang kecil Alhamdulillah sudah aman, walaupun tidur, tp si sulung, lumayan bikin konsentrasi yang nyetir sedikit 'oleng')
Saya tanya si sulung (pertanyaan yang selalu saya lontarkan ke si sulung, ketika sepeda motor mulai sedikit goyang)
Saya : "Aa ngantuk ya?"
Aa : "iya" (biasanya, kalau belum ngantuk banget, dia selalu jawab "nggak mi, cuma ngantuk sedikit, udah bangun lagi")
Tapi kali ini, dia sepertinya sangat mengantuk.
Lalu saya pun berhenti sejenak, sambil terus mengajaknya bicara.
Saya : "Yaudah, kalau Aa ngantuk, umi berhentiin dulu motornya ya, biar Aa nya tidur dulu. Kalau tidurnya udah, baru jalan lagi"
Setelah beberapa menit berhenti, dan dia mulai sadar dia memasng tampang 'seger' (diseger-segerin)
Aa : "Aa udah tidurnya mi, ini udah kebuka matanya. Tidurnya *sedikit aja (*sebentar)"
Lalu baru beberapa meter jalan, kondisinya kembali. Dan sayapun kembali menepi, begitu seterusnya sampai beberapa kali. Dan sampai si sulung benar-benar seger dan kembali mengoceh. (karena kalau tidak tidur, biasanya dia mengoceh sepanjang jalan)
Alhamdulillah setelah dikomunikasikan bersama ternyata lebih mudah, lebih lega, lebih enak. Saya enak (gak ngomel-ngomel gak jelas) anakpun enak (gak denger omelan yang mungkin dia juga gak ngerti mengapa dia diomeli, atau apa salahnya sehingga diomeli)
Dan Alhamdulillah janji hari inipun tertunaikan.
Pemberhentian saat menunggu si sulung tidur.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 11 November 2017
Euis Nurhayati
#hari10
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Luar biasanya ingatan anak-anak, mereka mampu merekam kejadian demi kejadian yang mereka alami, ada yang bisa dilupakan dengan seiring beranjaknya dewasa, ada juga yang akan terus melekat sampai dewasa. Dan tentu saja semua dengan ijin Allah.
Begitulah garis besar yang saya tangkap dari seminar innerchild Ahad kemarin.
Bagi saya itu merupakan titik balik.
Karena sejak saat itu saya sangat berhati-hati ketika berbicara, maupun bertindak terhadap anak-anak.
Entah itu anak sendiri, maupun anak-anak yang saya temui.
Saya ingin mereka mengingat saya dengan hal-hal yang baik, ketika mereka dewasa nanti.
Seperti siang ini, ditengah agenda yang padat, saya memacu motor matic, dengan 1 batita, dan 1 balita ke kota.
Bukan kali pertama buat saya. Namun hari itu si sulung nampak kelelahan, ditambah udara kota karawang yang cukup terik, sehingga membuatnya terlelap.
Padahal biasanya, dia kuat terjaga sampai tujuan, baru ketika pulang dia mengantuk, dan tertidur. Kalau yang kecil jengan ditanya, biasanya 5 menit naik motor sudah tidur. 😄
Bisa dibayangkan, gimana repotnya mengendarai sepeda motor, dengan dua anak didepan yang keduanya dalam keadaan tidur. Ditambah udara panas, jarak yang jauh (kira-kira 30-45 menit sampai tujuan dengan kecepatan biasa) ditambah lagi dalam keadaan terburu-buru. (karena ada 4 janji yang harus ditunaikan hari ini)
Dalam posisi mau pulang pun, biasanya saya akan sedikit ngomel pada si sulung, selain mengajaknya ngobrol yang ujung-ujungnya selalu ngomel juga.
Namun hari ini, saya semakin sadar. Tidak ada gunanya saya ngomel sama orang yang sedang kelewat ngantuk (tidur) apalagi anak-anak yang belum mengerti, kenapa mereka diomeli, bukannya ketika mengantuk maka harus tidur?
Jangankan anak-anak. Saya yang sudah punya anak saja kalau mengantuk ya cuma tidur yang bisa menyembuhkan.
Intinya, hari ini saya coba menahan omelan (salah sendiri berangkatnya mepet) saya berhenti dulu dipinggir jalan, untuk menepi. (kasihan juga melihat si sulung tidur, kalau yang kecil Alhamdulillah sudah aman, walaupun tidur, tp si sulung, lumayan bikin konsentrasi yang nyetir sedikit 'oleng')
Saya tanya si sulung (pertanyaan yang selalu saya lontarkan ke si sulung, ketika sepeda motor mulai sedikit goyang)
Saya : "Aa ngantuk ya?"
Aa : "iya" (biasanya, kalau belum ngantuk banget, dia selalu jawab "nggak mi, cuma ngantuk sedikit, udah bangun lagi")
Tapi kali ini, dia sepertinya sangat mengantuk.
Lalu saya pun berhenti sejenak, sambil terus mengajaknya bicara.
Saya : "Yaudah, kalau Aa ngantuk, umi berhentiin dulu motornya ya, biar Aa nya tidur dulu. Kalau tidurnya udah, baru jalan lagi"
Setelah beberapa menit berhenti, dan dia mulai sadar dia memasng tampang 'seger' (diseger-segerin)
Aa : "Aa udah tidurnya mi, ini udah kebuka matanya. Tidurnya *sedikit aja (*sebentar)"
Lalu baru beberapa meter jalan, kondisinya kembali. Dan sayapun kembali menepi, begitu seterusnya sampai beberapa kali. Dan sampai si sulung benar-benar seger dan kembali mengoceh. (karena kalau tidak tidur, biasanya dia mengoceh sepanjang jalan)
Alhamdulillah setelah dikomunikasikan bersama ternyata lebih mudah, lebih lega, lebih enak. Saya enak (gak ngomel-ngomel gak jelas) anakpun enak (gak denger omelan yang mungkin dia juga gak ngerti mengapa dia diomeli, atau apa salahnya sehingga diomeli)
Dan Alhamdulillah janji hari inipun tertunaikan.
Pemberhentian saat menunggu si sulung tidur.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 11 November 2017
Euis Nurhayati
#hari10
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Jumat, 10 November 2017
Komunikasi Produktif 9
Bismillah..
Siang ini, saya mengajak si sulung dan adiknya membeli diapers ke salah satu minimarket dekat rumah.
Kenapa tidak ke warung tetangga?
Karena di warung tetangga tidak ada diapers yang saya cari. Adanya diapers yang kurang nyaman buat si kecil, kadang membuat ruam.
Saat saya mengatakan akan membeli diaper, si sulung sudah antusias, dan mengatakan akan membeli nugget.
Lalu saya jelaskan, boleh membeli nugget, tp tidak membeli yang lain. Dan si sulungpun mengangguk.
Setelah di mini market, si sulung langsung berlari menuju tempat nugget. Sedangkan saya menuju tempat diapers.
Namun ketika melihat tempat mainan, si sulung mengambil salah satu mainan, lego mobil dan menyimpannya dikeranjang belanja.
Lalu saya tegur dengan baik-baik.
Saya : "kok Aa ngambil mainan, emang mau beli?"
Aa : "Iya, boleh gak mi?"
Saya : "boleh, tapi pilih salah satu, mau lego, apa nugget?"
Si sulung terlihat menimbang, lalu memberikan mainannya kepada saya.
"gak jadi mainannya mi, Aa kan sudah punya, Aa mau nugget aja"
Saya : "oke, kalau begitu, Aa simpan lagi ke tempat td Aa ngambil ya!"
Lalu si sulungpun berlari menyimpan mainan tersebut.
Beberapa bulan yang lalu si sulung pernah bimbang juga antara membeli mainan dan nugget, saat itu si sulung memilih mainannya, dan mengembalikan nugget.
Alhamdulillah, si sulung sudah bisa diajak kerjasama dalam berbelanja, juga bertanggungjawab mengembalikan ketempat semula, begitupun ketika bermain di pusat perbelanjaan. Saat diberikan waktu untuk memilih, dia sudah mulai bisa menentukan pilihan, tentunya sambil distimulus dan diberikan pilihan yg baik.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Makan malam dengan nugget.
Karawang, 10 November 2017
Euis Nurhayati
#hari9
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Siang ini, saya mengajak si sulung dan adiknya membeli diapers ke salah satu minimarket dekat rumah.
Kenapa tidak ke warung tetangga?
Karena di warung tetangga tidak ada diapers yang saya cari. Adanya diapers yang kurang nyaman buat si kecil, kadang membuat ruam.
Saat saya mengatakan akan membeli diaper, si sulung sudah antusias, dan mengatakan akan membeli nugget.
Lalu saya jelaskan, boleh membeli nugget, tp tidak membeli yang lain. Dan si sulungpun mengangguk.
Setelah di mini market, si sulung langsung berlari menuju tempat nugget. Sedangkan saya menuju tempat diapers.
Namun ketika melihat tempat mainan, si sulung mengambil salah satu mainan, lego mobil dan menyimpannya dikeranjang belanja.
Lalu saya tegur dengan baik-baik.
Saya : "kok Aa ngambil mainan, emang mau beli?"
Aa : "Iya, boleh gak mi?"
Saya : "boleh, tapi pilih salah satu, mau lego, apa nugget?"
Si sulung terlihat menimbang, lalu memberikan mainannya kepada saya.
"gak jadi mainannya mi, Aa kan sudah punya, Aa mau nugget aja"
Saya : "oke, kalau begitu, Aa simpan lagi ke tempat td Aa ngambil ya!"
Lalu si sulungpun berlari menyimpan mainan tersebut.
Beberapa bulan yang lalu si sulung pernah bimbang juga antara membeli mainan dan nugget, saat itu si sulung memilih mainannya, dan mengembalikan nugget.
Alhamdulillah, si sulung sudah bisa diajak kerjasama dalam berbelanja, juga bertanggungjawab mengembalikan ketempat semula, begitupun ketika bermain di pusat perbelanjaan. Saat diberikan waktu untuk memilih, dia sudah mulai bisa menentukan pilihan, tentunya sambil distimulus dan diberikan pilihan yg baik.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Makan malam dengan nugget.
Karawang, 10 November 2017
Euis Nurhayati
#hari9
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Kamis, 09 November 2017
Komunikasi Produktif 8
Bismillah..
Sore ini, saya, si sulung dan adiknya sedang bermain lego sambil ditemani suara televisi (serial kartun sore). Saat saya mengalihkan perhatian pada televisi, tiba-tiba adiknya menangis, sambil mengatakan "atit" (sakit) ternyata adiknya diusili oleh si sulung, yang karena gemas suka tiba-tiba narik pipi adiknya (kadang hanya nyolek dengan sedikit keras) sayapun merangkul dan menenangkan adiknya, lalu meminta si sulung untuk meminta maaf (karena kejahilannya sudah membuat adiknya, merasa sakit). Si sulungpun meminta maaf, lalu mereka kembali tertawa-tawa dan bermain.
Namun saat sedang asik bermai, adiknya yang memegang remote tv, tiba² memukulkan remot ke kakaknya. Awalnya si sulung bisa menangkisnya sambil tertawa, lalu karena merasa seru, adiknya memukulkan kembali remote tv tersebut sehingga ternyata pas mendarat dikening si sulung yang diikuti suara tangisan.
Sambil menangis dan terlihat marah, si sulung mengepalkan tinjunya mencoba untuk membalas perbuatan adiknya. Namun langsung saya peluk erat, sambil memberikan penjelasan, dan membuka kepalan tinjunya (saat kakaknya marah, adiknya memasang muka keki (tanpa salah), sambil memanggil-manggil kakaknya)
Saya coba meredam marah si sulung, sambil memberikan pengertian, bahwa adiknya sedang bermain, namun belum bisa membedakan. Saya juga menjelaskan pada si sulung, kalau adiknya tidak senghaja, dan lalu meminta mereka untuk maaf-maafan..
Saya : "coba sini, mana yang sakit?" sambil memeluk dan melihat-lihat kening si sulung.
Sementara si sulung masih terus menangis
Saya : "coba umi lihat, ooo.. Tidak kenapa-napa, cuma merah sedikit" sambil saya tiup-tiup keningnya.
Lalu setelah si sulung mereda, baru saya berikan penjelasan, sambil meminta mereka bermaafan.
Saya : "maafin neng ya, nengnya tidak senghaja. Nengnya lagi main, tp gak tahu kalau itu bikin Aa sakit."
Setelah bersalaman, merekapun kembali ceria, dan tertawa-tawa bersama lagi.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 09 November 2017
Euis Nurhayati
#hari8
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Sore ini, saya, si sulung dan adiknya sedang bermain lego sambil ditemani suara televisi (serial kartun sore). Saat saya mengalihkan perhatian pada televisi, tiba-tiba adiknya menangis, sambil mengatakan "atit" (sakit) ternyata adiknya diusili oleh si sulung, yang karena gemas suka tiba-tiba narik pipi adiknya (kadang hanya nyolek dengan sedikit keras) sayapun merangkul dan menenangkan adiknya, lalu meminta si sulung untuk meminta maaf (karena kejahilannya sudah membuat adiknya, merasa sakit). Si sulungpun meminta maaf, lalu mereka kembali tertawa-tawa dan bermain.
Namun saat sedang asik bermai, adiknya yang memegang remote tv, tiba² memukulkan remot ke kakaknya. Awalnya si sulung bisa menangkisnya sambil tertawa, lalu karena merasa seru, adiknya memukulkan kembali remote tv tersebut sehingga ternyata pas mendarat dikening si sulung yang diikuti suara tangisan.
Sambil menangis dan terlihat marah, si sulung mengepalkan tinjunya mencoba untuk membalas perbuatan adiknya. Namun langsung saya peluk erat, sambil memberikan penjelasan, dan membuka kepalan tinjunya (saat kakaknya marah, adiknya memasang muka keki (tanpa salah), sambil memanggil-manggil kakaknya)
Saya coba meredam marah si sulung, sambil memberikan pengertian, bahwa adiknya sedang bermain, namun belum bisa membedakan. Saya juga menjelaskan pada si sulung, kalau adiknya tidak senghaja, dan lalu meminta mereka untuk maaf-maafan..
Saya : "coba sini, mana yang sakit?" sambil memeluk dan melihat-lihat kening si sulung.
Sementara si sulung masih terus menangis
Saya : "coba umi lihat, ooo.. Tidak kenapa-napa, cuma merah sedikit" sambil saya tiup-tiup keningnya.
Lalu setelah si sulung mereda, baru saya berikan penjelasan, sambil meminta mereka bermaafan.
Saya : "maafin neng ya, nengnya tidak senghaja. Nengnya lagi main, tp gak tahu kalau itu bikin Aa sakit."
Setelah bersalaman, merekapun kembali ceria, dan tertawa-tawa bersama lagi.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 09 November 2017
Euis Nurhayati
#hari8
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Rabu, 08 November 2017
Komunikasi Produktif 7
Bismillah..
Siang ini, si sulung sedang bermain bersama satu saudara, dan adiknya di ruang tengah. Lalu saya tinggal mereka untuk melaksanakan sholat dzhur, belum saya mulai sholat, terdengar beberapakali larangan (dengan sedikit nada tinggi) dari neneknya yang baru selesai sholat, lalu beberapa detik kemudian diikuti suara tangisan si sulung. Saya tidak tau pasti apa yang sedang terjadi, si sulung menangis semakin kenceng, sementara neneknya masih terlihat mengomel, adik dan sodaranya hanya melihat, sambil bermain. Langsung saya peluk si sulung yang sedang menangis, dan membawanya ke kamar (menenangknanya) sementara adiknya pun merengek, dan mengikuti ke kamar.
Si sulung masih cegukan, dan menangis, dan masih saya peluk. Setelah agak tenang, saya meminta ijin untuk menunaikan sholat terlebih dahulu.
Setelah sholat, saya melihat si sulung sudah ceria lagi, dan bermain bersama adiknya di dalam kamar, lalu saya dekatin dan saya tanya dengan lembut.
Saya : "kenapa Aa td nangis?"
Muka si sulung langsung berubah kusut, dan cemberut, tidak menjawab pertanyaan saya.
Sebenarnya saya mendengar sekilas dari penjelasan neneknya yang sambil mengomel. Namun saya mencoba mendengar dari sudut pandang si sulung.
Karena beberapa kali saya tanya, namun si sulung enggan menjawab, baru saya langsung mengarahkan pada intinya.
Saya : "Aa kalau nengnya gangguin Aa lagi main, Aanya bilang ke neng, jangan gangguin. Gak boleh nengnya disembur (dengar dari penjelasan neneknya, bahwa adiknya disembur, gak pake air sih, hanya disembur biasa) itu tidak sopan. Aa juga kan gak mau kalau disembur. Kalau Aa lagi main, nengnya dikasih mainan yang lain, biar sama-sama bermain."
Dan si sulung hanya mengangguk.
Sorenya, saat mandi sore, seperti biasa si sulung dan adiknya mandi berbarengan sambil membawa mainan, saat saya sedang memandikan Adiknya, tangan saya tanpa senghaja menyenggol tangan si sulung yang sedang memainkan mobilannya di bak mandi, sehingga mobilannya (hotweels) masuk ke bak mandi, dan terjun ke dasar. Dan lumayan dalam untuk ukuran si sulung. Diapun marah-marah pada saya (menyalahkan), sayapun meminta maaf, namun sambil menangis dan sedikit berteriak dia menyuruh saya mengambilkan mainannya. Tidak langsung saya ambilkan, saya meminta dia untuk meminta tolong dan berkata yang baik (tidak teriak) ketika dia membutuhkan pertolongan.
Namun dia makin menjadi menangis, dan tetap menyuruh saya mengambilnya. Dan terus pula saya menjelaskan padanya, bagaimana sikap orang yang meminta tolong. Hingga adiknya sudah selesai di handuk, dia masih menangis, namun dengan intensitas melemah dan memeluk saya, sambil menunjuk ke bak mandi. Saya merasa mungkin egonya sudah menurun, namun masih ada gengsi untuk mengatakan minta tolong.
Saya mencoba memancingnya.
"Aa mau minta tolong ke umi ngambilin mobilannya?"
Dia hanya mengangguk.
"Hayu bilang, umi Aa minta tolong ambilin mobilan Aa"
Namun dia hanya menangis sambil memeluk saya.
Setelah beberapa kali, baru dia mau mengatakan minta tolong, walau dengan suara perlahan.
Saya ingin mengajarkan padanya, suatu hari nanti, ketika dia menjadi orang besar dan sukses, dan berada diposisi paling atas menurut manusia. Jika dia membutuhkan bantuan, tidak usah malu untuk meminta tolong. Walaupun pada orang yang sudah melakukan kesalahan padanya, serta mudah untuk memaafkan.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 08 November 2017
Euis Nurhayati
#hari7
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Siang ini, si sulung sedang bermain bersama satu saudara, dan adiknya di ruang tengah. Lalu saya tinggal mereka untuk melaksanakan sholat dzhur, belum saya mulai sholat, terdengar beberapakali larangan (dengan sedikit nada tinggi) dari neneknya yang baru selesai sholat, lalu beberapa detik kemudian diikuti suara tangisan si sulung. Saya tidak tau pasti apa yang sedang terjadi, si sulung menangis semakin kenceng, sementara neneknya masih terlihat mengomel, adik dan sodaranya hanya melihat, sambil bermain. Langsung saya peluk si sulung yang sedang menangis, dan membawanya ke kamar (menenangknanya) sementara adiknya pun merengek, dan mengikuti ke kamar.
Si sulung masih cegukan, dan menangis, dan masih saya peluk. Setelah agak tenang, saya meminta ijin untuk menunaikan sholat terlebih dahulu.
Setelah sholat, saya melihat si sulung sudah ceria lagi, dan bermain bersama adiknya di dalam kamar, lalu saya dekatin dan saya tanya dengan lembut.
Saya : "kenapa Aa td nangis?"
Muka si sulung langsung berubah kusut, dan cemberut, tidak menjawab pertanyaan saya.
Sebenarnya saya mendengar sekilas dari penjelasan neneknya yang sambil mengomel. Namun saya mencoba mendengar dari sudut pandang si sulung.
Karena beberapa kali saya tanya, namun si sulung enggan menjawab, baru saya langsung mengarahkan pada intinya.
Saya : "Aa kalau nengnya gangguin Aa lagi main, Aanya bilang ke neng, jangan gangguin. Gak boleh nengnya disembur (dengar dari penjelasan neneknya, bahwa adiknya disembur, gak pake air sih, hanya disembur biasa) itu tidak sopan. Aa juga kan gak mau kalau disembur. Kalau Aa lagi main, nengnya dikasih mainan yang lain, biar sama-sama bermain."
Dan si sulung hanya mengangguk.
Sorenya, saat mandi sore, seperti biasa si sulung dan adiknya mandi berbarengan sambil membawa mainan, saat saya sedang memandikan Adiknya, tangan saya tanpa senghaja menyenggol tangan si sulung yang sedang memainkan mobilannya di bak mandi, sehingga mobilannya (hotweels) masuk ke bak mandi, dan terjun ke dasar. Dan lumayan dalam untuk ukuran si sulung. Diapun marah-marah pada saya (menyalahkan), sayapun meminta maaf, namun sambil menangis dan sedikit berteriak dia menyuruh saya mengambilkan mainannya. Tidak langsung saya ambilkan, saya meminta dia untuk meminta tolong dan berkata yang baik (tidak teriak) ketika dia membutuhkan pertolongan.
Namun dia makin menjadi menangis, dan tetap menyuruh saya mengambilnya. Dan terus pula saya menjelaskan padanya, bagaimana sikap orang yang meminta tolong. Hingga adiknya sudah selesai di handuk, dia masih menangis, namun dengan intensitas melemah dan memeluk saya, sambil menunjuk ke bak mandi. Saya merasa mungkin egonya sudah menurun, namun masih ada gengsi untuk mengatakan minta tolong.
Saya mencoba memancingnya.
"Aa mau minta tolong ke umi ngambilin mobilannya?"
Dia hanya mengangguk.
"Hayu bilang, umi Aa minta tolong ambilin mobilan Aa"
Namun dia hanya menangis sambil memeluk saya.
Setelah beberapa kali, baru dia mau mengatakan minta tolong, walau dengan suara perlahan.
Saya ingin mengajarkan padanya, suatu hari nanti, ketika dia menjadi orang besar dan sukses, dan berada diposisi paling atas menurut manusia. Jika dia membutuhkan bantuan, tidak usah malu untuk meminta tolong. Walaupun pada orang yang sudah melakukan kesalahan padanya, serta mudah untuk memaafkan.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 08 November 2017
Euis Nurhayati
#hari7
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Selasa, 07 November 2017
Komunikasi Produktif 6
Bismillah..
Hari ini, hari yang panas buat saya, bukan karena cuacanya yang panas, (karena Alhamdulillah dari pagi cuaca di daerah saya mendung-mendung manja, sehingga lebih enak buat leyeh-leyeh sambil beralibi ngelonin si kecil dan membersamai si sulung bermain di kamar. Hehe..)
Tapi melainkan karena sedari siang saya sudah berhadapan dengan setrikaan yang hampir menyamai tinggi meja komputer. 😂
Beda realita dan ekspektasi 😂
Mungkin pepatah yang mengatakan:
*Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit*
Sangat cocok dengan keadaan setrikaan saya saat ini.
Hingga akhirnya karena asiknya menyetrika, rutinitas membersamai si sulung menonton tv bada Ashar pun terabaikan (tanggung sedikit lagi selesai)
Namun Alhamdulillah si sulung mau menonton tv ditemani adiknya di kamar, sementara saya menyetrika di ruang kerja (yang jaraknya berdekatan)
Karena saya tidak bisa menemani, akhirnya si sulung bolak-balik mencetitakan kejadian-kejadian yang Dia lihat di film (saat itu sedang menonton serial kartun little pony)
Aa : "umi, td ada monsternya, di rumah ibunya kuda"
Umi : "wah, monsternya lagi apa,di rumah ibunya?"
Aa : "Monsternya matanya begini (sambil berekspresi)"
Aa : "monsternya di belakang pintu rumah ibunya kuda"
Dan bla bla bla.. Banyak yang Dia ceritakan sambil bolak-balik menonton, dan bolak-balik pula antara kamar dan tempat saya menyetrika.
Sementara sayapun menanggapi dengan serius, sambil serius pula menyelesaikan seterikaan.
Sebisa mungkin saya menanggapi dengan serius apa yang diceritakan si sulung, walau sambil bekerja. Saat si sulung bercerita, saya menghentikan sejenak pekerjaan saya, dan menatap si sulung dengan serius, dan menanggapinya. Saat si sulung kembali menonton, baru saya lanjutkan kerjaan saya.
Begitulah kegiatan berlangsung sampai Alhamdulillah sayapun selesai, dan menghampiri si sulung dan adiknya yang asik bermain.
Sisulung yang sedang bercerita sambil berekspresi.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 07 November 2017
Euis Nurhayati
#hari6
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Hari ini, hari yang panas buat saya, bukan karena cuacanya yang panas, (karena Alhamdulillah dari pagi cuaca di daerah saya mendung-mendung manja, sehingga lebih enak buat leyeh-leyeh sambil beralibi ngelonin si kecil dan membersamai si sulung bermain di kamar. Hehe..)
Tapi melainkan karena sedari siang saya sudah berhadapan dengan setrikaan yang hampir menyamai tinggi meja komputer. 😂
Beda realita dan ekspektasi 😂
Mungkin pepatah yang mengatakan:
*Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit*
Sangat cocok dengan keadaan setrikaan saya saat ini.
Hingga akhirnya karena asiknya menyetrika, rutinitas membersamai si sulung menonton tv bada Ashar pun terabaikan (tanggung sedikit lagi selesai)
Namun Alhamdulillah si sulung mau menonton tv ditemani adiknya di kamar, sementara saya menyetrika di ruang kerja (yang jaraknya berdekatan)
Karena saya tidak bisa menemani, akhirnya si sulung bolak-balik mencetitakan kejadian-kejadian yang Dia lihat di film (saat itu sedang menonton serial kartun little pony)
Aa : "umi, td ada monsternya, di rumah ibunya kuda"
Umi : "wah, monsternya lagi apa,di rumah ibunya?"
Aa : "Monsternya matanya begini (sambil berekspresi)"
Aa : "monsternya di belakang pintu rumah ibunya kuda"
Dan bla bla bla.. Banyak yang Dia ceritakan sambil bolak-balik menonton, dan bolak-balik pula antara kamar dan tempat saya menyetrika.
Sementara sayapun menanggapi dengan serius, sambil serius pula menyelesaikan seterikaan.
Sebisa mungkin saya menanggapi dengan serius apa yang diceritakan si sulung, walau sambil bekerja. Saat si sulung bercerita, saya menghentikan sejenak pekerjaan saya, dan menatap si sulung dengan serius, dan menanggapinya. Saat si sulung kembali menonton, baru saya lanjutkan kerjaan saya.
Begitulah kegiatan berlangsung sampai Alhamdulillah sayapun selesai, dan menghampiri si sulung dan adiknya yang asik bermain.
Sisulung yang sedang bercerita sambil berekspresi.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 07 November 2017
Euis Nurhayati
#hari6
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Senin, 06 November 2017
Komunikasi Produktif 5
Bismillah..
Hari ini, selesai sholat dzhur saya mendapati kamar dalam kedaan penuh dengan makanan yang berceceran, mulai dari kripik singkong yang berhamburan di lantai, dan beberapa di kasur lantai, sebelum saya bertanya si sulung sudah menjelaskan.
"eneng tuh yang acak acak mi".
Saya mengerti, biasanya saya tau kalau itu ulah adiknya, namun masih saja kadang saya menyalahkan si sulung, biasanya saya akan bilang "Aa, bukannya larang klo nengnya mau numpahin kripiknya" atau "harusnya kripiknya Aa tutup, biar gak ditumpahin neng"
Saya selalu membebankan pengasuhan adiknya ke kakaknya (ketika saya sedang tidak ditempat) yang saya anggap sudah lebih besar (padahal semuanya masih batita 😭)
Sadar itu, saya hanya tersenyum kecut, dan getir mengingat apa yg pernah saya lalukan, sampai terekam si Sulung. Astagfirullah.. 😭
Namun setelah itu, si sulung merasa melakukan kesalahan dan bersembunyi di samping meja, pas saya lihat ternyata ada tumpahan baru, yaitu tumpahan ceres di lantai, mungkin Dia takut karena kadang biasanya saya marah. Astagfirullah.. 😭
Akhirnya saya hampiri si sulung, tapi dia tidak mau menoleh dan menyembunyikan mukanya ditembok.
"Aa kenapa, hayu sini"
Nqmun Dia tetap pada pendiriannya, malah semakin dalam menyembunyikan mukanya.
"kenapa, ceresnya tumpah ya? Umi gak gak marah kok"
setelah mengatakan itu, baru si sulung membalikan badannya. Dan mau menghampiri saya.
Ya Allah begitu terekamnya bentakan-bentakan saya selama ini..
Saya semakin bersyukur, bisa bertemu dan berada dalam komunitas hebat ini.
Komunitas yang selalu membuat saya haus akan ilmu, dan komunitas yang selalu membuat saya minder (selama ini saya merasa belum tau apa-apa, soal menjadi ibu)
Jzkmullah khoiron katsir..
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 06 November 2017
Euis Nurhayati
#hari5
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Hari ini, selesai sholat dzhur saya mendapati kamar dalam kedaan penuh dengan makanan yang berceceran, mulai dari kripik singkong yang berhamburan di lantai, dan beberapa di kasur lantai, sebelum saya bertanya si sulung sudah menjelaskan.
"eneng tuh yang acak acak mi".
Saya mengerti, biasanya saya tau kalau itu ulah adiknya, namun masih saja kadang saya menyalahkan si sulung, biasanya saya akan bilang "Aa, bukannya larang klo nengnya mau numpahin kripiknya" atau "harusnya kripiknya Aa tutup, biar gak ditumpahin neng"
Saya selalu membebankan pengasuhan adiknya ke kakaknya (ketika saya sedang tidak ditempat) yang saya anggap sudah lebih besar (padahal semuanya masih batita 😭)
Sadar itu, saya hanya tersenyum kecut, dan getir mengingat apa yg pernah saya lalukan, sampai terekam si Sulung. Astagfirullah.. 😭
Namun setelah itu, si sulung merasa melakukan kesalahan dan bersembunyi di samping meja, pas saya lihat ternyata ada tumpahan baru, yaitu tumpahan ceres di lantai, mungkin Dia takut karena kadang biasanya saya marah. Astagfirullah.. 😭
Akhirnya saya hampiri si sulung, tapi dia tidak mau menoleh dan menyembunyikan mukanya ditembok.
"Aa kenapa, hayu sini"
Nqmun Dia tetap pada pendiriannya, malah semakin dalam menyembunyikan mukanya.
"kenapa, ceresnya tumpah ya? Umi gak gak marah kok"
setelah mengatakan itu, baru si sulung membalikan badannya. Dan mau menghampiri saya.
Ya Allah begitu terekamnya bentakan-bentakan saya selama ini..
Saya semakin bersyukur, bisa bertemu dan berada dalam komunitas hebat ini.
Komunitas yang selalu membuat saya haus akan ilmu, dan komunitas yang selalu membuat saya minder (selama ini saya merasa belum tau apa-apa, soal menjadi ibu)
Jzkmullah khoiron katsir..
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 06 November 2017
Euis Nurhayati
#hari5
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Komunikasi Produktif 4
Bismillah..
Hari ini benar-benar GFOS..
Ba'da subuh, saya sudah mempersiapkan keperluan untuk berangkat pergi ke seminar Innerchild yang diselenggarakan oleh salah satu taman kreatifitas anak.
Si sulung dan adiknya pun harus di bangunkan, Alhamdulillah tidak ada 'rutinitas' nangis teriak-teriak, si sulungpun saya edukasi jika nanti di acara seminar, tempatnya harus dipisah (ada babycare), dan saya yakinkan dalam hati, bahwa si sulung akan mengerti dengan penjelasan saya dan tidak tantrum di tempat acara.
Setelah siap berangkat, ternyata suami ada keperluan mendadak, dan jadilah menunggu suami pulang dulu (karena rencana berangkat dianter suami)
Sampai tempat acara ternyata telat, anak-anak yang lain (yang dititip d babycare) sudah diangkut mobil ke sekolah (jarak sekolah dengan tempat seminar kebetulan berjauhan), namun ada panitia yang siap mengantar si sulung dan adiknya.
Awalnya saya khawatir si sulung tidak mau, adiknyapun menunjukan reaksi menolak, saat saya menyerahkan ke panitia untuk digendong. Namun saya kembali berbicara dengan si sulung
Umi : "Aa nanti main di sekolah ya sama neng"
Aa : "umi ikut ga?"
Umi : "umi gak ikut, umi kan disini ada acara, Aa sama neng ke sekolah, nanti dianterin ibu guru, pulangnya baru umi jemput ke sekolah"
Aa : "sama neng?" menegaskan, biasanya Dia mau kalau sama adiknya, walau uminya tidak ikut, asal uminya bilang mau jemput (kalau main ke rumah tetangga juga gitu)
Alhamdulillah akhirnya mereka mau berangkat, walau tidak ditemani uminya.
Siangnya, saya terlambat menjemput, karena menunggu suami dan sholat dulu. Sesampainya di sekolah, hanya tinggal anak-anak saya dan satu anak yang sama baru dijemput juga.
Saat saya jemput, si sulung baru berhenti menangis dan tertidur dipinggir jalan sambil duduk menyender ke pagar sekolah ditemani 2 orang guru yang menjaganya, sedangkan adiknya baru keluar mau menghampiri Aa nya.
Saya langsung menghampiri dan memeluk si sulung, sambil menggendongnya, kita menghampiri adiknya.
Si sulung terlihat marah, karena telat dijemput dan sambil berkata : "umi sih, lama" dengan nada sedikit meninggi. Sayapun meminta maaf pada si sulung dan adiknya, baru kemudian Dia tenang, dan kembali ceria.
Setelah proses penjemputan, kita melanjutkan perjalanan ke tempat makan, melanjutkan familly time kita. Setelah beberapa pilihan, akhirnya makan siang kita jatuh pada salahsatu tempat makan yang ada di sekitar kawasan KIIC.
Alhamdulillah GFOS hari ini berjalan dengan lancar, selain ngWA suami untuk minta dijemput, baru pas di tempat makan buka hp lagi. Jd yang ada dokumentasinya cuma yang ditempat makan 😁
Dan baru buka hp lagi setelah menjelang mlm, soalnya pulang dari tempat makan, kita langsung pada 'tepar', lalu sorenya ada teman yang main ke rumah, sampai menjelang maghrib.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 05 November 2017
Euis Nurhayati
#hari4
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Hari ini benar-benar GFOS..
Ba'da subuh, saya sudah mempersiapkan keperluan untuk berangkat pergi ke seminar Innerchild yang diselenggarakan oleh salah satu taman kreatifitas anak.
Si sulung dan adiknya pun harus di bangunkan, Alhamdulillah tidak ada 'rutinitas' nangis teriak-teriak, si sulungpun saya edukasi jika nanti di acara seminar, tempatnya harus dipisah (ada babycare), dan saya yakinkan dalam hati, bahwa si sulung akan mengerti dengan penjelasan saya dan tidak tantrum di tempat acara.
Setelah siap berangkat, ternyata suami ada keperluan mendadak, dan jadilah menunggu suami pulang dulu (karena rencana berangkat dianter suami)
Sampai tempat acara ternyata telat, anak-anak yang lain (yang dititip d babycare) sudah diangkut mobil ke sekolah (jarak sekolah dengan tempat seminar kebetulan berjauhan), namun ada panitia yang siap mengantar si sulung dan adiknya.
Awalnya saya khawatir si sulung tidak mau, adiknyapun menunjukan reaksi menolak, saat saya menyerahkan ke panitia untuk digendong. Namun saya kembali berbicara dengan si sulung
Umi : "Aa nanti main di sekolah ya sama neng"
Aa : "umi ikut ga?"
Umi : "umi gak ikut, umi kan disini ada acara, Aa sama neng ke sekolah, nanti dianterin ibu guru, pulangnya baru umi jemput ke sekolah"
Aa : "sama neng?" menegaskan, biasanya Dia mau kalau sama adiknya, walau uminya tidak ikut, asal uminya bilang mau jemput (kalau main ke rumah tetangga juga gitu)
Alhamdulillah akhirnya mereka mau berangkat, walau tidak ditemani uminya.
Siangnya, saya terlambat menjemput, karena menunggu suami dan sholat dulu. Sesampainya di sekolah, hanya tinggal anak-anak saya dan satu anak yang sama baru dijemput juga.
Saat saya jemput, si sulung baru berhenti menangis dan tertidur dipinggir jalan sambil duduk menyender ke pagar sekolah ditemani 2 orang guru yang menjaganya, sedangkan adiknya baru keluar mau menghampiri Aa nya.
Saya langsung menghampiri dan memeluk si sulung, sambil menggendongnya, kita menghampiri adiknya.
Si sulung terlihat marah, karena telat dijemput dan sambil berkata : "umi sih, lama" dengan nada sedikit meninggi. Sayapun meminta maaf pada si sulung dan adiknya, baru kemudian Dia tenang, dan kembali ceria.
Setelah proses penjemputan, kita melanjutkan perjalanan ke tempat makan, melanjutkan familly time kita. Setelah beberapa pilihan, akhirnya makan siang kita jatuh pada salahsatu tempat makan yang ada di sekitar kawasan KIIC.
Alhamdulillah GFOS hari ini berjalan dengan lancar, selain ngWA suami untuk minta dijemput, baru pas di tempat makan buka hp lagi. Jd yang ada dokumentasinya cuma yang ditempat makan 😁
Dan baru buka hp lagi setelah menjelang mlm, soalnya pulang dari tempat makan, kita langsung pada 'tepar', lalu sorenya ada teman yang main ke rumah, sampai menjelang maghrib.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 05 November 2017
Euis Nurhayati
#hari4
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Sabtu, 04 November 2017
Komunikasi produktif 3
Bismillah..
Hari ini hari ke 3 membersamai si sulung dengan berkomunikasi produktif, namun ternyata hari ini belum seberhasil seperti 2hari yang lalu.
Hari ini si sulung tantrum di tempat 'ngaji', dan malah membuat saya hilang kesabaran, sehingga keluar kata-kata yang kurang produktif, seperti ancaman, dan mulai membandingkan dengan adiknya yang 'bageur'.
Ini bukan kali pertama si sulung tantrum di tempat ngaji, dan setiap tantrum, ancaman yang sama pun selalu dilontarkan: 'Aa kalau rewel mending pulang aja ya, main sama nenek di rumah, nanti umi anterin pulang'.
Atau membandingkan dengan adiknya : 'liatin tuh, adeknya juga baik, knapa Aa yang rewel?
Dan selalu, bukan malah berhenti, semakin diancam dan dibandinhkan malah semakin menangis..
Padahal sudah belajar ilmunya, tp saat diperlukan tetep saja kalah dengan emosi, dan 'malu diliat orang', tanpa memperdulikan perasaannya.
Astaghfirullah.. 😢
Padahal ketika saya mulai bisa berpikir tenang, dan saya alihkan ke yang lain (mainan, dan penglihatan yang lain) si sulungpun reda..
Dan memang kuncinya ada pada orang tuanya, baik sugesti, maupun ketenangan orang tua saat menghadapi, semakin panik orang tua, anakpun semakin panik, semakin emosi orang tua, anakpun malah tambah emosi.
Pelajaran sekali buat hari ini, semoga tetap bisa istiqomah dalam membersamai anak.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 04 November 2017
Euis Nurhayati
#hari3
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Hari ini hari ke 3 membersamai si sulung dengan berkomunikasi produktif, namun ternyata hari ini belum seberhasil seperti 2hari yang lalu.
Hari ini si sulung tantrum di tempat 'ngaji', dan malah membuat saya hilang kesabaran, sehingga keluar kata-kata yang kurang produktif, seperti ancaman, dan mulai membandingkan dengan adiknya yang 'bageur'.
Ini bukan kali pertama si sulung tantrum di tempat ngaji, dan setiap tantrum, ancaman yang sama pun selalu dilontarkan: 'Aa kalau rewel mending pulang aja ya, main sama nenek di rumah, nanti umi anterin pulang'.
Atau membandingkan dengan adiknya : 'liatin tuh, adeknya juga baik, knapa Aa yang rewel?
Dan selalu, bukan malah berhenti, semakin diancam dan dibandinhkan malah semakin menangis..
Padahal sudah belajar ilmunya, tp saat diperlukan tetep saja kalah dengan emosi, dan 'malu diliat orang', tanpa memperdulikan perasaannya.
Astaghfirullah.. 😢
Padahal ketika saya mulai bisa berpikir tenang, dan saya alihkan ke yang lain (mainan, dan penglihatan yang lain) si sulungpun reda..
Dan memang kuncinya ada pada orang tuanya, baik sugesti, maupun ketenangan orang tua saat menghadapi, semakin panik orang tua, anakpun semakin panik, semakin emosi orang tua, anakpun malah tambah emosi.
Pelajaran sekali buat hari ini, semoga tetap bisa istiqomah dalam membersamai anak.
Alhamdulillah, hari ini sampai disitu dulu goalnya.
Karawang, 04 November 2017
Euis Nurhayati
#hari3
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Komunikasi Produktif 2
Bismillah..
Hari ke dua tantangan game #level1 di kelas bunsay IIP karawang. Saya bersama si sulung masih mencoba komprod dalam kegiatan sehari-hari, dan hari ini sya mencoba menerapkannya sambil membersamai si sulung saat bermain.
Biasanya saat bermain si sulung agak 'rungsing', jika ada mainannya yang tidak sesuai dengan keinginannya, contohnya ketika bermain lego. Kadang, Dia ingin membuat sesuatu dengan legonya, namun Dia kadang merasa prustasi dan kesal (karena belum bisa), nah saat itu biasanya saya akan ikutan sedikit emosi, sambil mengatakan (niatnya memberitahu) dengan panjang lebar,, yang setelah tersadar, sayapun berpikir, mungkin apa yang saya sampaikan tidak dimengerti si sulung, karena bahasa yang terlalu panjang dan berbelit buat anak seumuran itu (3th 8 bln) misalnya: "Jangan marah-marah", "kalau gak bisa buatnya, buat yang lain yang Aa bisa", atau "kalau gak bisa, gak usah main, mending main yang lain" dll yang akhirnya membuat saya beristighfar dan menyesal sudah mengatakannya. Belum lagi saat selesai bermain, yang mainnanya acak-acakan hampir memenuhi seisi kamar, belum yang tercecer di luar, dan itu selalu membuat suara saya naik beberapa oktav.. Yaa Allah malu sekali setelah membaca materi 1 di kelas bunsay ini.
Saya semakin merasa menjadi ibu yang sudah dzolim kepada anak. Astaghfirullah.. 😭
Alhamdulillah setelah tau ilmunya, setidaknya sedikit terkontrol apa yg harusnya keluar dari mulut, walaupun dalam keadaan rada emosi. Dan membersamai bermain bersama si sulung jadi lebih menyenangkan, si sulungpun senang, dan apa yang ingin saya sampaikan bisa dimengeri.
Karawang, 03 November 2017
Euis Nurhayati
#hari2
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Kamis, 02 November 2017
Komunikasi produktif 1
Bismillah..
Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang masih memberikan hidayah dan rahmatNya kpd saya sehingga saya masih diberikan kesempatan untuk belajar menjadi ibu pembelajar bagi keluarga.
Berbicara tentang komunikasi produktif (komprod), beberapa bulan kebelakang ini saya sepertinya sedang mengalami kesusahan, baik dengan anak, suami, ibu mertua (yang masih serumah) dan juga dengan orang-orang yg bersinggungan langsung maupun tdk langsung (berjauhan) dengan saya. Sepertinya memang komunikasi saya yg kurang produktif, sehingga banyak salah tafsir.
Nah pada game #level1 ini, saya akan mendokumentasikan komprod yang saya lakukan bersama anak sulung saya yang baru berusia 3th 8bln.
Dimana beberapa bulan kebelakang sedang dalam masa tarik urat, baik sayanya maupun si sulungnya.
Pada bulan Agustus lalu saya sempat membawa si sulung k dokter spesialis THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan) karena saya merasa si sulung kurang tanggap ketika saya panggil, atau saya ajak bicara. Saya khawatir ada masalah dengan pendengarannya. Alhamdulillah setelah diperiksa, tdk ada yang salah dengan pendengaranya, hanya kebetulan saat itu telinganya sedang sakit (efek bapil).
Setelah saya dapat materi pertama tentang komprod, sayapun menyadari sepertinya ada yang salah dengan cara saya berbicara padanya, baik intonasi (yg kadang naiiik) ataupun pemilihan kata yg terlalu berbelit, misalnya: "Aa bisa gak klo bangun tidur nggak nangis?" atau "Aa kan sudah gede, harusnya Aa lebih mengerti!" (padahal umurnya belum 5th) sehingga kadang membuat si sulung terlihat kurang respon, belum lagi dengan marah-marah saya yang gak jelas ketika Dia melakukan kesalahan. Astagfirullah.. 😢
Alhamdulillah hari ini saya mulai dengan mengevaluasi ketika si sulung bangun tidur.
Biasanya, bangun tidur si sulung akan menangis, dan berteriak-teriak ketika saya tidak ada dikamar, Dia akan berteriak sambil menangis sampai saya menghampiri ke kamar, atau Dia akan berlari mencari saya ke dapur sambil menangis dan bertetiak-teriak. Setelah itu sya akan marah-marah dan membanding-bandingkan dengan adiknya, atau dengan kata-kata lain yang menurut saya memotivasi, namun saya pun tdk yakin apakah akan dimengerti olehnya dengan bahasa saya yang campur emosi.
Nah, pagi tadi ketika mulai terdengar Dia menangis, saya langsung berlari menghampiri, lalu memeluknya sampai nangisnya berhenti, lalu setelah mereda tangisnya, saya mulai bertanya kenapa menangis, apa takut, atau bermimpi dll (diajak ngobrol) setelah itu baru saya beri sugesti positif, dan Alhamdulillah saya pun mulai belajar berbicara dengan komprod, dan lebih menahan emosi.
Alhamdulillah hari ini, goalnya sampai situ dulu. Semoga semakin istiqomah menggunakan komprod dalam percakapan seharai-hari, sehingga tercapainya apa tujuan dari komunikasi tersebut.
Karawang, 02 November 2017
Euis Nurhayati
#hari1
#gamelavel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#sayadansisulung
Pemanasan dulu sebelum mulai
Bismillah..
Setelah sekian lama punya blog, baru sadar isinya baru ada satu Entri, itupun karena "dipaksa" karena harus mengumpulkan tugas aliran rasa dari kuliah online yang saya ikuti di Institut Ibu Profesional (IIP)
dan hari ini kembali membuka blog karena tuntutan kuliah online juga, masih dari IIP. dan masih dilevel yang sama __dengan aliran rasa yang dikirim__ #leve1 ya, saya mengulang kelas, karena kurang fokus dikelas sebelumnya. mudah-mudahan dikelas yang sekarang bisa istiqomah dan luluas. bukan hanya lulus mengikuti rangkaian kegiatan di kelas online ini, melainkan bisa lulus dalam mengaflikasikannya di kelas kehidupan yang sesungguhnya. menjadi ummu madrasatul ulla.
Tapi jujur saja, walaupun ini kali ke dua saya mengikuti kelas yang sama, namun cukup membuat saya deg-degan dan kurang percaya diri. apalagi selama saya cuti dari kelas sebelumnya saya bener-benar kacau dan blank dalam ilmu mendidik dan cara berkomunikasi produktif.
intinya sih, ini hanya sebuah curahan hati sebelum memulai membuat laporan, untuk belajar kembali menulis.
Langganan:
Komentar (Atom)









